Senin, 24 Mei 2010
Coal mining causes water crisis in kalimantan
Kalimantan returned his attention to the situation of the river, swamps, lakes, springs,
ground water and sea, now that has experienced the most serious threat.
Kalimantan is currently being threatened by the increasing processes
ecological destruction. Not only are the problems that continue tenurial conflict
occur, threats to health and sustainability of productivity residents
Borneo is getting worse with the loss of clean water sources citizens.
Kalimantan ekologik unit was awarded a stable, which could not be found mountain
active volcanoes, one lane of the earthquake. But a different story when Kalimantan
2475 intake of coal mining permits, which has been, is and will
damage the catchment areas, absorption and other bodies of water.
Greedy coal mining land, water and energy, accumulating swamp, making
giant hole baracun flooded, spent the forest vegetation, as well as
cut, and eliminate river mendangkalkan even shut eye
water.
In 2009, Kaltim JATAM recorded at least nine small watersheds missing
due to mining activities. While the length of the Mahakam River
900 km which serve residents in West Kutai Kabupatan, member of Parliament, and
Samarinda city also experienced a decline in quality, contain substances
hazardous toxic, turbid, abrasion and experiencing sedimentation, triggering floods
often come. It occurs due to accumulation of deforestation and quarrying
coal.
Large-scale mining activities along the river Kandilo. In the area of flow
Kandilo river, Paser-East District, there are 8009 head
family clean water supplies disrupted due to polluted river water chemistry
hazardous and high turbidity. Regional Water Company had
using chemicals to four times normal. So also in the watershed
Bengalon East Kutai, there were 9971 souls who hang and organize
cosmology of his life with this river, clean water supply is threatened because
The river became no longer feasible for everyday needs.
In addition, coal mines also makes irrigating fields in the village
Makroman, as barns Samarinda, threatened damaged area
persawahannya upstream. Their cropping pattern is interrupted, they were forced to change
cropping pattern of paddy fields into nugal (planted on dry land). Even
This year, 100 hectares of paddy production is not threatened because it threatened
Arjuna CV mines which covers 695.5 acres, which not only captured in
paddies upstream region refers to itself even to the wetland
people.
Not only that, the floods that hit several areas in Samarinda also
triggered by the presence of coal mines. The more massive flooding when the area
Samarinda upstream changes to the mining area. Similarly
Overseas residents experienced Tenggarong. Kertabuana villagers lost
u paddy fields of water resources, since 70 percent of their agricultural land annexed
coal mining. Khal same thing happened in the village Mulawarman,
Bangun Rejo village and other villages in various regions of
Kalimantan, where the mine operates. Reduced supplies of clean water will
become a source of crisis citizens.
Kalimantan, East Kalimantan JATAM invites residents to join the Movement Anti
Gloomy generation of Borneo, to build solidarity against
damaged power dredging industry in Kalimantan. Kaltim JATAM invites residents
Indonesia support the Kalimantan Gloomy Petition Anti generation
Sabtu, 08 Mei 2010
Laporan segmen dan Interim
Pelaporan informasi keuangan menurut segmen di atur melalui PSAK No. 5, yang menjelaskan pelaporan informasi keuangan menurut segmen dari suatu perusahaan, khususnya yang beroperasi dalam industri dan wilayah geografis yang berbeda. Laporan Segmen adalah laporan rugi laba yang menyajikan informasi tentang laporan rugi laba untuk setiap segmen usaha. Dengan adanya laporan segmen maka akan diketahui bagaimana kinerja dari masing-masing segmen usaha tersebut. Output dari metode absorption berupa laporan rugi laba konvensional memberikan informasi untuk penyusunan laporan segmen, maksudnya laporan rugi laba konvensional kita olah lagi dengan menggunakan analisa perilaku biaya yang menghasilkan laporan segmen.
Lebih tepat dikatakan bahwa laporan rugi laba konvensional menyajikan kinerja perusahaan dalam suatu periode tertentu secara komprehensif atau umum. Lebih dari itu dalam penyusunannya digunakan metode absorption atau full costing. Sedangkan laporan rugi laba segmen disusun dengan menggunakan perilaku biaya yang menghasilkan kinerja perusahaan secara detail untuk setiap segmen usaha. Untuk keperluan pengukuran kinerja manajer segmen lebih tepat digunakan laporan rugi laba segmen daripada laporan rugi laba konvensional.
LAPORAN INTERIM
Laporan interim adalah laporan keuangan yang di terbitkan di antara 2 laporan keuangan tahunan. Laporan interim dapat di susun secara bulanan, triwulan atau periode lainnya yang kurang dari setahun dan mencangkup seluruh komponen laporan keuangan sesuai standar akuntansi keuangan. Secara konseptual, laporan interim menyediakan informasi yang lebih tepat waktu tetapi kurang lengkap di bandingkan laporan keuangan tahunan.
Analisis :
• Dilihat dari laporan keuangan yang di tampilkan oleh perusahaan Medco Energy Internasional Tbk, di ketahui perusahaan tersebut mempunyai 5 bagian segmen, yaitu : Minyak dan Gas bersih, Kimia dan Produk petroleum, Pendapatan dari kontrak lainnya, Tenaga listrik, Usaha pengeboran dan jasa terkait.
• Penghasilan dari segmen – segmen tersebut adalah Minyak dan gas bersih sebesar $ 84.517.542. Kimia dan Produk Petroleum $ 215.914.911. Pendapatan dari kontrak lainnya $ 91.648.613. Tenaga listrik $ 81.868.075. dan Usaha Pengeboran dan jasa terkait $ 53.378.642
• Sedangkan laporan interim di ambil dari PT Unilever Indonesia Tbk.
DAFTAR PUSTAKA
www.idx.co.id
www.google.com
Jumat, 16 April 2010
markus
Institusi pajak sudah lama menjadi sarang makelar kasus. Para makelar kasus itu bebas bergerilya di lingkungan pengadilan Pajak dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian keuangan. Kini tiba saatnya mendandani total institusi pajak. Pengadilan pajak adalah satu-satunya lembaga peradilan yang bernaung di bawah dua atap. Itulah yang di kelukan Ketua MA Harifin Tumpa. Teknis peradilan di bawah MA dan Administrasi menjadi urusan kementerian Keuangan. Tugas MA hanya terlibat dalam pengesahan majelis hakim jika ada persidangan perkara pajak. Sedangkan penunjukan hakim dilakukan oleh Kementerian Keuangan, kondisi ini mempersulit pengawasan.
Gayus telah mengaku kepada Satgas Pemberantasan mafian hukum bahwa pengadilan pajak menjadi sarang makelar kasus. Pengadilan pajak semestinya menjdi tempat mencari keadilan bagi Wajib pajak (WP) yang bersenketa dengan Ditjen pajak. Akan tetapi peradilan itu malah menjadi tempat transaksi antara wajib pajak dengan pegawai pajak. Setiap tahun hanya 25% hingga 30% tunggakan pajak yang bisa di tagih pemerintah. Sisanya 75% tidak bisa di tagih karena terhalng oleh sengketa pajak. Tidak lah mengherankan jika masih terdapat sekitar 1,8 juta WP menunggak kewajiban Rp 44 Triliun. Besarnya jumlah penunggak pajak itu berkorelasi dengan jumlah gugatan di pengadilan pajak. Pada tahun 2008, jumlah banding dan gugatan di pengadilan pajak mencapai 6.430 kasus atau naik 1.594 kasus. Jika di bandingkan tahun 2007 yang hanya sebanyak 4.836 kasus. Pada tingkat banding itu lah Ditjen Pajak selalu kalah.
(Sumber : Media Indonesia)
Ulasan :
Kalau di lihat dari berita di atas, saya sebagai warga Negara Indonesia sangat sedih sekali, karena uang Negara yang seharusnya di gunakan untuk membangun Negara, sekolah, jalan-jalan dan insfrastruktur lainnya di korupsi oleh orang-orang yang tidak mempunyai hati nurani. Sekarang ini bisa kita lihat dan dengar, begitu banyaknya markus-markus atau mafia kasus yang berkeliaran.
Apakah pajak yang telah di bayarkan oleh masyarakat yang tertib pajak harus lenyap begitu saja. Pajak yang seharusnya buat memberi makan masyarakat miskin masih saja di korupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa pegawai pajak yang hanya golongan IIIa bisa mempunyai penghasilan yang luar biasa. Seharusnya pengadilan pajak itu di kembalikan pengawasan nya kepada MA atau pengawasannya di lakukan oleh lembaga Independent. Dan keistimewaan yang di berikan kepada pegawai pajak di tinjau ulang, apakah sudah bisa mencegah terjadinya korupsi dan makelar kasus. Bagaimana Negara ini bisa bebas dari korupsi, kalau masih banyak markus-markus yang berkeliaran.
sejarah penulisan ilmiah
Penulisan ilmiah adalah sebuah syarat yang harus di penuhi oleh semua mahasiswa Universitas Gunadarma Strata Satu. Karena itu semua mahasiswa wajib untuk membuatnya. Awal saya masih bingung dalam menentukan masalah yang akan saya teliti. Begitu banyak judul-judul dan masalah yang saya lihat dari penulisan-penulisan ilmiah dari mahasiswa yang telah melakukan penulisan, sehingga menyebabkan saya semakin bingung dalam mencari masalah yang akan di teliti. Karena saya
Setelah mencari-mencari masalah yang akan saya buat, saya memutuskan 5 judul yang akan saya ajukan kepada Dosen Pemimbing. Tapi karena saya lebih berminat dengan pasar modal, akhirnya saya memilih judul “Pengaruh Profitabilitas dan Leverage terhadap laba per lembar saham”. Saya memilih masalah tersebut, karena saya sangat berminat kepada pasar modal dan juga ingin mengetahui bagaimana kinerja perusahaan yang saya teliti kalau di lihat dari laba per lembar saham. Saya juga ingin calon investor bisa mengetahui apakah mereka bisa mendapatkan keuntungan atau laba dalam penanaman investasinya. Akhirnya saya memtuskan untuk meneliti masalah “Pengaruh Profitabilitas dan Leverage Terhadap Laba per lembar saham pada PT Medco Energy Internasional”. Saya mengambil PT Medco sebagai objek penelitian, karena ketarikan saya akan perusahaan tambang dan juga karena Indonesia kaya akan sumber daya alam.
Selasa, 23 Maret 2010
oasis
Oasis dalam ilmu Geografi adalh suatu daerah subur terpencil yang berada di tengah gurun, dan biasanya mengelilingi suatu mata air atau sumber air lainnya. Berikut adalah 7 oasis yang paling menakjubkan di seluruh dunia :
• Ubari Oasis (di Libya)
Oasis ini terletak di barat daya Libya, tepatnya di lembah Targa. Berlokasi di antara datarn tinggi Messak Sattafat dan Gurun Idhan Ubari, mengelilingi dau dua desa yaitu Germa dan Inn Garran. Air di oasis ini sangat asin seperti laut mati, namun di sini anda tidak mungkin berenang, karena airnya sangat kotor.
• Oase Huacachina (di Peru)
Terletak tepat di bawah gurun Peruvian. Gurun ini menawarkan pemandangan yang sangat menakjubkan, sebauh kiloan cahaya bila di lihat dari kejauhan. Sebauh Komplek penginapan telah di dirikan di tempat ini lengkap dengan hiasan pohon palem dan sebauh kolom berenang yang unik, Huacachina sering di sebuut Oasis Of America.
• Oasis Ein Gedi (di Palestina)
En Gedi merupakan Oase terbesar sepanjang pantai laut mati. Daerah ini di diami suku Judah dan telah terkenal sejak zaman kerajaan Nabi Sulaiman.
• Oase Chebika (di Tunisia)
Chebika merupakan salah satu oase yang paling menakjubkan di dunia yang terletak di pegunungan utara Tunisia. Selain terkenal, Chebika memnawarkan pemandangan yang indah serta peristiwa alam yang mungkin hanya dapat anda temukan di sini. Hampir tiap tahun oase ini menampung sinar matahari sehinnga di sebut sebagai Qasr el-shams atau Istana matahari.
• Oase Timia (di Niger)
Oase Timia terletak di pegunungan air di Nigeria utara. Terkenal karena pemandangan oase yang dipercantik dengan hadirnya pohon palem di setiap sisinya. Selain itu anda bisa menjumpai kebun-kebun dari beraneka ragam buah-buahan, termasuk jeruk Nigeria yang lezat.
• Oase Gaberoun (di Libya)
Gaberoun adalah sebuah oase yang terletak di wilayah sabha di gurun sahara. Ditempat ini banayk terdapat kamp-kamp perkemahan bagi para turis yang sengaja datang ke Gaberoun. Danau di sini sangat asin, namun anad masih dapat berenang di tempat ini.
• Oase Heroubreioarlindir ( di Islandia)
Terletak persis di daratan tinggi Islandia. Tercipta karena gempa vulkanik yang di sebabkan letusan gunung Trolladyngja. Disini pun banyak terdapat kamp perkemahan dan area pendakian bagi para turis.
biaya modal
Biaya modal (cost of capital) adalah biaya yang di perhitungkan, karena penggunaan modal tertentu, baik yang di keluarkan untuk memperoleh modal tersebut maupun biaya yang terpaksa harus di perhitungkan selama penggunaan modal di maksud. Seperti kita ketahui bahwa modal yang di gunakan berasal dari hutang (debt) dan modal sendiri (equity).Karena hutang mempunyai beban bunga, maka ada yang mengira bahwa hanya modal hutang yang mempunyai biaya. Padahal, modal sendiri itu juga mempunyai biaya, baik modal yang berasal dari penjualan saham biasa maupun yang berasal dari labab yang ditahan. Biaya modal yang berasal dari hutang bukan hanya sebesar tingkat bunga, kecuali apabila jumlah uang yang di terima itu sama dengan nominal hutang.
Biaya modal untuk sumber dana tertentu dapat di anggap sebagai discount rate yang dapat menyamakan nilai tunai (present value) pembayaran masa datang dengan jumlah-jumlah dana yang di terima
tugas filsuf dunia sutan syahrir
Sutan Syahrir atau juga dieja sebagai Soetan Sjahrir (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909 – meninggal di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Riwayat
Syahrir lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam. [1] Ayahnya menjabat sebagai penasehat sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan. Syahrir bersaudara seayah dengan Rohana Kudus, aktivis serta wartawan wanita yang terkemuka.
Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.
Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.
Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.
Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).
Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif –saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.
Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. "Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan," katanya.
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.
Masa pendudukan Jepang
Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, oleh karena itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis: “Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan.”
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri. Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.
Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah bikinan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
Masa Revolusi Nasional Indonesia
Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.
Di masa genting itu, Bung Syahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjungan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
Tulisan-tulisan Syahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."
Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan."
Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Penculikan
Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka dari Partai Komunis Indonesia. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
Presiden Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.
Tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (koppig).
Kelak Let. Kol. Soeharto menjadi Presiden RI Soeharto dan menerbitkan catatan tentang peristiwa pemberontakan ini dalam buku otobiografinya Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.
Diplomasi Syahrir
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.
Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.
Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan Biju Patnaik, Syahrir bersama Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.
Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.
Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.
Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat.
Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.
Partai Sosialis Indonesia
Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Pada tahun 1948 Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari gerakan komunis internasional. Meskipun PSI berhaluan kiri dan mendasarkan pada ajaran Marx-Engels, namun ia menentang sistem kenegaraan Uni Soviet. Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.
Hobi Dirgantara dan Musik
Meskipun perawakannya kecil, yang oleh teman-temannya sering dijuluki Si Kancil, Sutan Syahrir adalah salah satu penggemar olah raga dirgantara, pernah menerbangkan pesawat kecil dari Jakarta ke Yogyakarta pada kesempatan kunjungan ke Yogyakarta. Di samping itu juga senang sekali dengan musik klasik, di mana beliau juga bisa memainkan biola.
Akhir hidup
Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI tahun 1958, hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962 hingga 1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swis, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Djojopuspito menghantarkan beliau di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo degan air mata, dan akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.
Karya
- Pikiran dan Perjuangan, tahun 1950 (kumpulan karangan dari Majalah ”Daulat Rakyat” dan majalah-majalah lain, tahun 1931 – 1940)
- Pergerakan Sekerja, tahun 1933
- Perjuangan Kita, tahun 1945
- Indonesische Overpeinzingen, tahun 1946 (kumpulan surat-surat dan karangan-karangan dari penjara Cipinang dan tempat pembuangan di Digul dan Banda-Neira, dari tahun 1934 sampau 1938).
- Renungan Indonesia, tahun 1951 (diterjemahkan dari Bahasa Belanda: Indonesische Overpeinzingen oleh HB Yassin)
- Out of Exile, tahun 1949 (terjemahan dari ”Indonesische Overpeinzingen” oleh Charles Wolf Jr. dengan dibubuhi bagian ke-2 karangan Sutan Sjahrir)
- Renungan dan Perjuangan, tahun 1990 (terjemahan HB Yassin dari Indonesische Overpeinzingen dan Bagian II Out of Exile)
- Sosialisme dan Marxisme, tahun 1967 (kumpulan karangan dari majalah “Suara Sosialis” tahun 1952 – 1953)
- Nasionalisme dan Internasionalisme, tahun 1953 (pidato yang diucapkan pada Asian Socialist Conference di Rangoon, tahun 1953)
- Karangan–karangan dalam "Sikap", "Suara Sosialis" dan majalah–majalah lain
- Sosialisme Indonesia Pembangunan, tahun 1983 (kumpulan tulisan Sutan Sjahrir diterbitkan oleh Leppenas)
Jabatan
- Perdana Menteri pertama Republik Indonesia
- Ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI)
- Ketua delegasi Republik Indonesia pada Perundingan Linggarjati
- Duta Besar Keliling (Ambassador-at-Large) Republik Indonesia
Komentar :
Sutan Syahrir adalah seorang pemimpin besar yang pernah di miliki oleh Republik Indonesia. Dari cara beliau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia terlihat bahwa beliau tidak pernah berhenti untuk selalu memperjuangkan kemerdekaan. Itu patut di jadikan teladan bagi kita semua bangsa indonesia, bagaimana kita meneladani sikap dari seorang pahlawan yang telah memperjuangkan hadirnya sebuah negara yang telah lama di cita-citakan oleh masyarakat kita. Dari pikiran beliau lahir perjuangan yang mendahulukan kepentingan kemerdekaan Republik dari pada kepentingan dia sendiri. Sebagai bangsa Indonesia kita juga bisa mengambil bagaimana cara beliau mengambil segala tindakan dan karya-karya yang di hasilkan oleh beliau untuk kepentingan bangsa ini.
Tapi sangat di sayangkan sekali, di akhir hayatnya beliau harus di jadikan tahan politik oleh pemerintahan Presiden Soeharto. Kita bisa bertanya, Apakah pantas seorang Pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Republik ini pantas untuk di jadikan tahanan politik dan di asingkan???? Saya juga sangat sedih mendengarkan ini, karena menurut saya tidak sepantasnya seorang pahlawan besar dan perdana menteri pertama indonesia di berlakukan seperti ini. Saya harapkan semua pemuda-pemuda indonesia mengingat semua jasa yang telah di lakukan oleh beliau kepada Negara ini. Tidak melupakan yang telah banyak terjadi seperti sekarang ini. Tidak hanya Sutan Syahrir, tapi juga semua pahlawan indonesia yang telah memperjuangkan agar terbentuknya negara yang sangat kita cintai ini.